SASTRA PEDIA #1

Dipublikasikan oleh admin pada

Dengan Sahabat
Oleh: Ineztasya Eka R.

Denganmu, wahai sahabat
Biarkan aku berbasah ria menjalani banyak kisah
Kita bersama
Menemui bintang penghias langit
Memancarkan selalu sinar kebahagiaan

Denganmu, wahai sahabat
Aku ingin menghayati secara dalam arti dari persahabatan
Raga dan hati ini takkan pernah bosan
Menempuh jalan kebersamaan

Denganmu, wahai sahabat
Rasa sedih dan bahagia tak terelakkan
Menerjemahkan segala kerinduan
Mewarnai lingkup persahabatan

Denganmu, wahai sahabat
Biarlah aku menjadi sahabatmu selalu
Yang mengalir bersama selamanya
Sampai kita tersenyum indah bersama

Titik, Koma.
Oleh: Yousenja

Lantai dingin menelan kaki sampai betis
Menggigil, menggila, menangis, meraung
Retina tak bisa lagi menjadi kamera
Putih, kabur diguyur mendung

Firasatku mati terlindas badai candu misah misuh, ombang-ambing macam tai sapi
Fisikku mati remuk di pelataran ibadat, malam-malam menjelang fajar bajingan
Hatiku tiada, diguncang gempa sumpah serapah di tenggorokan
Nadi menjadi jalan untuk menghilang
Hanya ada sekawanan batu titik, dan rumput koma.
Di perbatasan pergelangan tangan.
Aku sungguh ingin di-entas*.

Grogol, malam ini 2022

*Entas : angkat (saat menggoreng)

Kerinduan
Oleh: Chintya

Hidup memang penuh misteri
Layaknya pulau tak berpenghuni
Yang mati karna gerusan geografi
Hembusan angin yg melampaui ruang dimensi

Meratapi guncangan emosi yg tiada henti
Mengisakan tangisan dalam hati
Yang tak kunjung terobati
Beribu untaian rindu yg tak kunjung menepi
Melebur bersama kejamnya dentingan waktu yang tak simetri

Camukan ambisi yang penuh prestisi semakin menjadi jadi
Namun diri ini perlu realistis dalam menyikapi

Garis Empat Musim
Oleh : Arinda

Pukul berapa?
Jangan hiraukan waktunya.
Sinarnya sudah membiru.
Dijalan pulang, mereka menemukanku.
Dengan nama yang memalukan.
Daun berguguran oleh cahaya keemasan.
Sinarmu hangat…
Meski dunia mendulang lara.
Aku tidak menangis…

Kau terduduk mengais emosi yang hilang.
Menjual rok merah, membeli kaki panjang.
Mungkin ia selimut di puncak musim dingin.
Yang hanya luluh saat fajar datang.

Di atas sana di mana musim lalu lalang,
Langit berpenuh musim gugur.
Dalam keheningan tak terjamah ini,
Nyaris terbilang olehku bintang-bintang musim gugur.

Kenapa tak sanggup aku menyisipkan,
Barang satu dua bintang itu di dadaku.
Sebab fajar segera merekah,
Dan malam-malam lainnya masih setia,
Tentu masa mudaku belumlah binasa.
Kemudian bukit yang mengubur namaku itu,
Bangga lagi memakai baju rumputnya.

Kategori: Sastra

2 Komentar

Agus Sanjaya · 13/02/2022 pada 5:42 pm

Wah mantap. selamat untuk sahabat-sahabat yang mendapat anugerah sastra pedia. semangat berkarya selalu.😁😁😁

    admin · 06/03/2022 pada 9:05 pm

    thank you sahabat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.