MAJAS PERSONIFIKASI DALAM ANTOLOGI PUISI KOTA INI KEMBANG API KARYA GARTIAGUSTI CHANANYA ROMPAS

Dipublikasikan oleh admin pada

Eva Eri Dia1, Rina Febilantin Riadi2

evaeridia@gmail.com1, rinafebilantinriadi@gmail.com2

STKIP PGRI Jombang12

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul Majas Personifikasi dalam Antologi Puisi Kota Ini Kembang Api Karya Gartiagusti Chananya Rompas. Masalah yang ingin ditelaah adalah tentang penggunaan majas personifikasi pada kumpulan puisi yang terdapat dalam buku Kota Ini Kembang Api. Penelitian ini bertujuan mengetahui penggunaan majas personifikasi dan makna yang sebenarnya ingin disampaikan oleh pengarang dalam antologi puisi Kota Ini Kembang Api. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah buku Kota Ini Kembang Api. Data dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan dari 60 judul puisi yang ada dalam buku Kota Ini Kembang Api terdapat 13 puisi yang mengandung majas personifikasi dengan makna-makna terselubung dibaliknya.

Kata Kunci: Majas, Personifikasi, Makna.

ABSTRACT

This research is entitled Personification Figure in this Kota Ini Kembang Api by Gartiagusti Chananya Rompas. The problem to be studied is the use of personification figure of speech in the collection of poems contained in the book Kota Ini Kembang Api. This study aims to determine the use of personification figure of speech and the actual meaning the author wants to convey in the poetry anthology Kota Ini Kembang Api. The method used is descriptive qualitative. The source of the data in this research is the book Kota Ini Kembang Api. Data were analyzed using descriptive method. The results of this study indicate that of the 60 titles of poetry in the book Kota Ini Kembang Api, there are 13 poems containing personification figure of speech with hidden meanings behind it.

Keywords: Figure, Personification, Contain.

PENDAHULUAN

Puisi selalu menjadi karya sastra yang marak dan ngetrend di kalangan anak muda. Puisi merupakan salah satu genre sastra yang menarik untuk dicermati di samping prosa dan drama. Puisi menggunakan bahasa sebagai medianya. Melalui puisi, pengarang bebas mengungkapkan perasaan dan imajinasinya untuk dituangkan dalam sebuah karya yang bernilai estetis (Maryatin, 2018:2). Wordworth menjelaskan mengenai definisi puisi yakni suatu pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. Adapun pembaca ataupun pendengar mengemukakan bahwa puisi lebih merupakan pernyataan yang bercampur-campur (Pradopo, 2014:6). Dunton (Pradopo, 2014:6) berpendapat bahwa sebenarnya puisi merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam emosional serta berirama.

Menurut Yunus (2015:54) puisi merupakan salah satu jenis karya sastra yang mewakili perasaan penulisnya. Pada kenyataannya, tidak semua orang pandai dalam menulis puisi. Menulis puisi dirasakan sangat sulit oleh sebagaian orang. Selain itu, Nuraeni (2019:131) mengemukakan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang menggunakan kata-kata indah dan kaya makna. Keindahan sebuah puisi disebabkan oleh diksi, majas, rima dan irama yang terkandung dalam karya sastra tersebut. Adapun Dibia (2018:77) mendefinisikan bahwa puisi adalah salah satu bentuk kesusastraan yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa yakni, dengan pengonsentrasian struktur fisik dan struktur batin.

Dalam dunia sastra, tampak ternyata terasa aneh tanpa adanya bumbu-bumbu majas yang membalut jajaran diksi yang disajikan. Puisi tentunya tak jauh-jauh dari yang namanya majas dan permainan diksi. Tak heran jika karangan bebas berupa puisi tersebut marak, sebab dengan diksi dan majas siapa saja akan luluh olehnya. Majas atau gaya bahasa merupakan cara atau gaya seorang pengarang dalam menyampaikan buah pikirannya dalam pembuatan karya sastra tersebut. Unsur bahasa, salah satunya gaya bahasa atau majas ternyata juga menjadi salah satu hal yang sangat penting dalam mengkaji sebuah karya sastra.

Ratna (Santoso, 2016: 6) mengungkapkan majas atau gaya bahasa (figure of speech) adalah pilihan kata tertentu yang sesuai dengan maksud pengarang atau pembicara dalam rangka memperoleh aspek keindahan. Majas sendiri memiliki 4 jenis, yaitu majas perbandingan, majas perumpamaan, majas pertentangan dan majas sindiran. Majas dalam puisi akan mencerminkan bagaimana si pengarang memiliki gaya atau karakteristik dalam karangannya. Salah satu karakteristik dan menjadi hal yang khas dalam memanfaatkan majas tersebut diperlihatkan oleh salah seorang pengarang buku antologi puisi Kota Ini Kembang Api yaitu Gartiagusti Chananya Rompas. Hal tersebut tampak jelas dengan banyak adanya majas personifikasi yang digunakan dalam beberapa puisinya. Yang menarik adalah pengarang mendapatkan semangat dari Jono Pinurbo bahwa sang pengarang masih dianggap bisa menulis sehingga pengarang melanjutkan karyanya meskipun dicetak terbatas.

Majas personifikasi artinya majas atau gaya bahasa yang menciptakan perumpamaan benda mati seolah-olah tampak hidup dan menyerupai manusia. Dale menyatakan bahwa personifikasi sebagai salah satu jenis majas berasal dari bahasa latin persona yang berarti orang, pelaku, aktor, atau topeng dalam drama. Oleh karena itu, apabila menggunakan gaya bahasa personifikasi, dapat memberikan ciri-ciri kualitas, yaitu kualitas pribadi orang kepada benda-benda yang tidak bernyawa ataupun kepada gagasan-gagasan (Tarigan, 2009:17).

Dalam penelitian yang berjudul Majas Personifikasi dalam Antologi Puisi Kota Ini Kembang Api Karya Gartiagusti Chananya Rompas bertujuan menganalisis penggunaan majas. Namun pada penelitian ini hanya lebih difokuskan pada penggunaan majas personifikasi saja, agar penelitian menjadi lebih fokus dan terarah. Widianto dalam Fauzi (2018:952) menyatakan bahwa majas merupakan intrepetasi pengarang dalam menginterpretasikan hal yang ingin disampaikan dengan bergantung pada pemilihan bahasa. Dengan demikian, penelitian ini juga bertujuan mengetahui makna dari majas personifikasi yang digunakan oleh pengarang tersebut.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif. Deskriptif artinya penelitian ini mendeskripsikan hasil data yang diperoleh. Menurut Bogdan dan Taylor (Moleong, 2014:4) bahwa metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Kualitatif artinya kajian atau penelitian yang berusaha mengamati dan menafsirkan sesuatu yang menjadi fokus penelitian, dengan tujuan untuk memperoleh pemahaman terhadap unsur yang dianalisis dalam suatu karya dalam hal ini, majas. Antologi puisi Kota Ini Kembang Api karya Gartiagusti Chananya Rompas digunakan sebagai sumber data.

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian yaitu teknik pustaka. Pengumpulan data melalui teknik pustaka dilakukan dengan cara membaca antologi puisi Kota Ini Kembang Api karya Gartiagusti Chananya Rompas, mencatat bagian puisi yang mengandung majas. Selanjutnya sumber tertulis tersebut dianalisis kemudian dipilih bagian yang termasuk dalam majas personifikasi dan melakukan penyimpulan. Instrumen penelitian yang digunakan adalah buku antologi puisi Kota Ini Kembang Api dan tabel data analisis majas personifikasi yang terdapat dalam antologi puisi Kota Ini Kembang Api karya Gartiagusti Chananya Rompas.

GAYA BAHASA ATAU MAJAS

Salah satu hal penting yang terdapat dalam karya sastra ialah gaya bahasa karena dengan gaya bahasa pengarang mampu membuat pembaca tertarik terhadap tulisannya. Gaya atau gaya bahasa dikenal dalam retorika dengan istilah style Keraf (2006 :113). Pengertian gaya bahasa dapat dibatasi sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). Sebuah gaya bahasa yang baik harus mengandung tiga unsur berikut: kejujuran, sopan santun dan menarik. Gaya adalah cara tertentu, sehingga tujuan yang dimaksudkan dicapai secara maksimal Munaris (2010: 22). Gaya dapat ditelusuri dari 22 penggunaan elemen bahasa, misal: diksi, frase, klausa, dan kalimat.

Gaya bahasa berarti cara membentuk atau menciptakan bahasa sastra dengan memilih diksi, sintaksis, ungkapan[1]ungkapan, majas, irama, dan imaji yang tepat untuk memperoleh kesan estetik. Gaya bahasa ialah pemakaian ragam bahasa dalam mewakili atau melukiskan sesuatu untuk memperoleh efek tertentu. Gaya adalah segala sesuatu yang memberikan ciri khas kepada sebuah teks, menjadikan teks itu semacam individu bila dibandingkan dengan teks lainnya Luxembung (2001: 105). Gaya bahasa merupakan efek seni dalam karya sastra yang dipengaruhi juga oleh nurani. Melalui gaya bahasa itu seorang sastrawan akan menuangkan ekspresinya. Berapa pun rasa kesal dan senangnya, jika dibungkus dengan gaya bahasa akan semakin indah. Berarti gaya bahasa adalah pembungkus ide yang akan menghaluskan teks sastra Endraswara (2008: 730).

Style atau gaya bahasa dapat dibatasi sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa) Keraf (2009: 112). Gaya bahasa berdasarkan makna diukur dari langsung tidaknya makna, yaitu apakah, acuan yang dipakai masih mempertahankan makna denotasi atau sudah adapenyimpangan. Bila acuan yang digunakan itu masih mempertahankan makna dasar, maka bahasa itu masih bersifat polos. Namun, bila sudah ada perubahan makna, entah berupa makna konotatif atau sudah menyimpang jauh dari makna denotasi, maka acuan itu sudah dianggap memiliki gaya.

Gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna ini biasanya disebut sebagai trope atau figure of speech. Gaya bahasa ini dibagi atas dua kelompok, gaya bahasa retoris, yang semata-mata merupakan penyimpangan dari konstruksi biasa untuk mencapai efek tertentu, dan gaya bahasa kiasan yang merupakan penyimpangan yang lebih jauh, khususnya dalam bidang makna Keraf (2009: 129).

MAJAS PERSONIFIKASI

Personifikasi berasal dari bahasa latin persona (orang, pelaku, aktor, atau topeng yang dipakai dalam drama) oleh karena itu, apabila kita menggunakan gaya bahasa personifikasi, dan kita memberikan ciri-ciri ataupun gagasan. Personifikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan menurut Gorys Keraf (2010: 140). Personifikasi merupakan gaya bahasa atau jenis majas yang mendekatkan sifat-sifat insani kepada benda yang tidak bernyawa dan ide yang abstrak. Personifikasi adalah gaya bahasa yang menggambarkan benda-benda mati dapat berbuat atau bergerak seperti manusia.

Contoh:

1) Pohon melambai-lambai menerpa angin.

2) Mentari mencubit mukaku.

3) Tugas menantikan kita.

4) Margasatwa berpesta air.

5) Pepohonan tersenyum riang.

Personifikasi adalah majas yang menggambarkan benda[1]benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat kemanusiaan. Personifikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan menurut Keraf (2010: 140). Sejalan dengan Keraf dan Nurgiyantoro (2014: 235) mengemukakan bahwa majas personifikasi merupakan majas yang memberi sifat-sifat benda mati dengan sifat-sifat kemanusiaan. Berdasarkan beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa majas personifikasi adalah majas yang meletakkan sifat-sifat insani (manusiawi) pada suatu benda mati sehingga seolah-olah memiliki sifat seperti benda hidup.

Ciri majas personifikasi yaitu terdapatnya pilihan kata yang mengenakan sifat manusia pada benda mati tersebut. Majas personifikasi memiliki gaya bahasa perbandingan, yaitu membandingkan benda mati atau tidak dapat bergerak sehingga sepertinya tampak bernyawa dan berperilaku seperti manusia. Oleh karena itu, majas ini dikategorikan majas perbandingan. Adapun fungsi dari majas personifikasi yaitu untuk menegaskan, mengintensifkan, dan menghidupkan penuturan (Nurgiyantoro, 2014: 239). Artinya majas personifikasi berfungsi untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai situasi yang dilukiskan dan memberikan bayangan angan (citraan) yang konkret.

Contoh dari penggunaan majas personifikasi dapat dilihat pada kalimat berikut. “Suara peluit penjaga sekolah meraung-raung menerorku”. Meraung-raung adalah salah satu jenis suara atau mengeluarkan bunyi. Kata peluit merupakan benda mati yang seakan-akan melakukan kegiatan seperti manusia yaitu meraung-raung atau mengeluarkan bunyi. Jadi, peluit yang melakukan kegiatan meraung[1]raung termasuk personifikasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Antologi puisi Kota Ini Kembang Api memiliki jumlah 60 judul puisi. Judul-judul puisi dalam buku Kota Ini Kembang Api meliputi, (1) “di kota ini, malam selalu lebih panjang”, (2) perempuan buta, (3) mimpi jari kaki, (4) langitku padam, (5) mimpi, (6) kembang (api) hujan, (7) hujan bintang, (8) hujan, (9) “dingin menyelinap dari sela jendela”, (10) hujankenangan, (11) sayang aku ingin pulang. tidur. dan mimpi, (12) lagu untuk Ofelia, (13) rahasia ninabobo, (14) anakbintang, (15) malam ini, aku, (16) malam ini aku adalah laut, (17) ikan laut dalam, (18) ketika malam datang menyelinap, (19) meeting mary, (20) kota, (21) PendarPendarCahayaMenyelinapRuangMata, (22) lagu-lagu malam, (23) mabuk lampu, (24) suara dan tubuh, (25) rahasiarahasia, (26) gedung gedung malam malam, (27) amarah, (28) Kesedihan yang sangat tua singgah tadi malam, (29) aku tak berani berkedip, (30) langit jauh, (31)langit pupus, (apakah rahasia?, (32) senjanegeri, (33) sekuens, (34) prediksi, (35) senja, (36) winter-in-a-box, (37) kenangan rapi, (38) bulumatahari, (39) The God of Small Things, (40) remang kenangan, (41) kemari, (42) angina senja, (43) kirimanhujan, (44) airmata dalam amplop, (45) mendung di nyhavn, (46) koln hbf, (47) lagu-lagu hujan, (48) rindu hujan, (49) jurnal hujan, (50) rindu adalah, (51) “pagi berlalu terlalu cepat”, (52) (tidak) menyesal, (53) perempuan dan matahari, (54) mataharikumati, (55) a grim tale, (56) menuju mentari, (57) “hari-hari melingkar”, (58) melihatmu di balik air mata, (59) sejenak, (60) “jari-jari renta”.

Peneliti menemukan majas personifikasi yang didapatkan setelah melakukan penelitian. Telah didapati bentuk penggunaan majas personifikasi sebanyak 13 judul puisi. Di antaranya adalah sebagai berikut:

No. Judul Puisi Bukti Majas
1. perempuan buta rinai cahaya yang menari ramai (KIKA/2)
2. langitku padam langitku padam. tanpa bicara. tanpa berkedip. tanpa bergetar. (KIKA/4)
3. Mimpi malam bernapas pelan (KIKA/5)
4. hujan bintang bintang bintang berderai mengguyur bumi (KIKA/7)
5. Anakbintang malam menggigil di luar, dibelai gerimis (KIKA/23)
6. ketika malam datang merayap purnama bersinar ragu (KIKA/27)
7. meeting Mary kota itu menari nari di balik jendela (KIKA/29)
8. lagu-lagu malam malam berbisik ke dalam telinga (KIKA/32)
9. Bulumatahari seperti dedaun ditiup angin (KIKA/52)
10. The God of Small Things ketika sinar matahari jatuh seperti selendang tembus pandang (KIKA/53)
11. angin senja 1. senja perlahan menyapa (KIKA/56) 2. mengusir siang dan membawamu kemari (KIKA/56) 3. namun senja tak pernah bertanya (KIKA/56)
12. Kirimanhujan Lalu matahari tiba mengusir derasnya begitu saja (KIKA/57)
13. lagu-lagu hujan 1. titik titik hujan menerobos celah jendela (KIKA/62) 2. mematuki wajah dengan mata terkatup (KIKA/62) 3. hujan mengajak bercinta (KIKA/62) 4. gelembung gelembung air meluncur (KIKA/63) 5. bisik gerimis (KIKA/63) 6. hujan kawini bumi  (KIKA/63)

Dalam puisi perempuan buta terdapat penerapan majas personifikasi pada kutipan rinai cahaya yang menari ramai. Kutipan tersebut menunjukkan yang menjadi benda adalah cahaya sedangkan cahaya tidak dapat menari. Menari merupakan salah satu kegiatan yang biasanya dilakukan oleh manusia. Makna sebenarnya dari rinai cahaya yang menari ramai adalah menunjukkan bahwa cahaya pada saat itu sedang terang.

Dalam puisi langitku padam terdapat penerapan majas personifikasi pada kutipan langitku padam. tanpa bicara. tanpa berkedip. tanpa bergetar. Kutipan tersebut menunjukkan yang menjadi benda adalah langit sedangkan langit pada dasarnya memang tidak bicara, berkedip maupun bergetar. Bicara, berkedip maupun bergetar merupakan salah satu kegiatan yang biasanya dilakukan oleh manusia. Makna sebenarnya dari langitku padam. tanpa bicara. tanpa berkedip. tanpa bergetar adalah menunjukkan bahwa langit pada saat itu sedang mendung namun tanpa disertai suara petir maupun turunnya hujan.

Dalam puisi mimpi terdapat penerapan majas personifikasi pada kutipan malam bernapas pelan. Kutipan tersebut menunjukkan yang menjadi benda adalah malam sedangkan malam tidak bernapas dan bernapas merupakan kegiatan manusia. Makna sebenarnya yang ingin disampaikan oleh pengarang adalah malam itu disertai angin semilir pelan. Angin yang semilir atau datang dengan perlahan diumpamakan seperti sebuah hembusan napas.

Dalam puisi anakbintang terdapat penerapan majas personifikasi pada kutipan bintang bintang berderai mengguyur bumi. Kutipan tersebut menunjukkan yang menjadi benda adalah bintang-bintang sedangkan bintang-bintang tidak bisa mengguyur bumi. Makna sebenarnya yang ingin disampaikan oleh pengarang adalah bahwa malam itu bintang-bintang banyak yang tampak sehingga memenuhi angkasa.

Dalam puisi ketika malam datang merayap terdapat penerapan majas personifikasi pada kutipan purnama bersinar ragu. Kutipan tersebut menunjukkan yang menjadi benda adalah purnama sedangkan purnama tidak bisa merasakan atau mengalami keraguan. Sikap keraguan biasanya tampak atau muncul pada manusia. Makna sebenarnya yang ingin disampaikan oleh pengarang adalah bahwa bulan purnama pada saat itu bersinar dengan cahaya redup atau bersinar dengan wujud yang tidak utuh penuh lingkaran.

Dalam puisi meeting Mary terdapat penerapan majas personifikasi pada kutipan kota itu menari nari di balik jendela. Kutipan tersebut menunjukkan yang menjadi benda adalah kota sedangkan kota tidak bisa menari-nari. Kegiatan menari-nari biasanya dilakukan oleh manusia. Makna sebenarnya yang ingin disampaikan oleh pengarang adalah bahwa yang menari-nari ada gerakan cahaya dari antara gedung-gedung yang berjajar/kota tersebut.

Dalam puisi lagu-lagu malam terdapat penerapan majas personifikasi pada kutipan malam berbisik ke dalam telinga. Kutipan tersebut menunjukkan yang menjadi benda adalah malam sedangkan malam tidak bisa berbisik. Berbisik adalah kegiatan manusia yang biasanya dilakukan ketika ingin membicarakan suatu hal secara lirih atau suara pelan. Makna sebenarnya yang ingin disampaikan oleh pengarang adalah bahwa malam pada hari itu disertai angin pelan yang semilir melintasi telinga dengan lembut.

Dalam puisi bulumatahari terdapat penerapan majas personifikasi pada kutipan seperti dedaun ditiup angin. Kutipan tersebut menunjukkan yang menjadi benda adalah angin sedangkan angin tidak meniup. Hakikat angin adalah melintasi ruang dan menyentuh apapun yang ada dalam lintasannya. Makna sebenarnya yang ingin disampaikan oleh pengarang adalah daun yang jatuh terkena angin.

Dalam puisi The God of Small Things terdapat penerapan majas personifikasi pada kutipan ketika sinar matahari jatuh seperti selendang tembus pandang. Kutipan tersebut menunjukkan yang menjadi benda adalah sinar matahari sedangkan sinar matahari tidak jatuh seperti selendang tembus pandang. Makna sebenarnya yang ingin disampaikan oleh pengarang adalah sinar matahari yang datang seperti selendang yang tembus pandang atau transparan.

Dalam puisi angin senja terdapat penerapan majas personifikasi pada kutipan (1) senja perlahan menyapa, (2) mengusir siang dan membawamu kemari, (3) namun senja tak pernah bertanya. Kutipan tersebut menunjukkan yang menjadi benda adalah kata senja. Senja tak bisa menyapa, mengusir apalagi bertanya dan hal-hal tersebut yang dapat melakukannya adalah manusia. Makna sebenarnya yang ingin disampaikan oleh pengarang adalah bahwa senja kala itu sangat indah dan seolah-olah senja saat itu mengajak pengarang berkomunikasi.

Dalam puisi kiriman hujan terdapat penerapan majas personifikasi pada kutipan lalu matahari tiba mengusir derasnya begitu saja. Kutipan tersebut menunjukkan yang menjadi benda adalah matahari sedangkan matahari tidak bisa mengusir hujan begitu saja. Makna sebenarnya yang ingin disampaikan oleh pengarang adalah datangnya matahari menjadi pertanda bahwa hujan telah reda dan tergantikan oleh sinar matahari.

Dalam puisi lagu-lagu hujan terdapat penerapan majas personifikasi pada kutipan (1) titik titik hujan menerobos celah jendela, (2) mematuki wajah dengan mata terkatup, (3) hujan mengajak bercinta, (4) gelembung gelembung air meluncur, (5) bisik gerimis, (6) hujan kawini bumi. Kutipan tersebut menunjukkan yang menjadi benda adalah hujan, gelembung air hingga gerimis. Makna sebenarnya yang ingin disampaikan oleh pengarang adalah (1) titik titik hujan memasuki ruangan, (2) hujan membasahi wajah, (3) hujan mengajak menjadikan seseorang ingin tidur, (4) gelembung air mengalir, (5) suara gerimis yang gemercik, (6) hujan membasahi permukaan bumi.

SIMPULAN DAN SARAN

            Dalam antologi puisi Kota Ini Kembang Api karangan Gratiagusti Chananya Rompas yang terdapat 60 judul puisi didalamnya terdapat 13 puisi yang mengandung majas personifikasi. Majas personifikasi adalah majas yang berisi ungkapan benda mati yang seolah-olah tampak hidup seperti manusia. Dari 13 puisi tersebut banyak makna terselubung yang dikemas oleh pengarang ke dalam bentuk majas personifikasi sehingga menjadi karya puisi tersebut tampak lebih hidup dan indah dibaca.

Bagi pembaca, kajian ini sangat bermanfaat untuk menambah wawasan pengetahuan tentang majas personifikasi. Bagi peneliti, kajian ini sangat bermanfaat sebagai acuan atau referensi-referensi untuk melakukan penelitian-penelitian selanjutnya. Sementara itu, bagi penulis kajian ini menjadi motivasi dan inspirasi dalam berliterasi baik dalam membaca maupun menulis terutama dalam pengembangan dan pemakaian gaya bahasa yang menarik di kalangan anak muda jaman sekarang.

REFERENSI

Ahmad Qari Fauzi, dkk. 2018. Analisis Penggunaan Majas pada Puisi Berjudul Memoir Hitam Lagu Hitam, dan Selembar Daun karya Soni Farid Maulana. Bandung: IKIP Siliwangi. Volume 1 No.6, November 2018.

Chananya, Gratiagusti Rompas. 2016. Kota Ini Kembang Api. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Dibia, I. K. 2018. Apresiasi Bahasa dan Sastra Indonesia. Depok: PT. Raja Grafindo Persada.

Maryatin, M. 2018. Penggunaan Gaya Bahasa Personifikasi dalam Kumpulan Puisi Karya Mahasiswa FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Balikpapan. Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra11(1), 2.

Moleong, L. 2014. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Nuraeni, P. 2019. Peningkatan Kemampuan Siswa dalam Menulis Kreatif Puisi dengan Media Gambar. Alinea, 8(2), 130–137. https://jurnal.unsur.ac.id/

Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Pers.

Santoso, Sugeng. 2016. Majas dalam Novel Semesta Mendukung Karya Ayu Widya. Jurnal Penelitian Vol. 2 No. 1 E-ISSN 2503-3875. Bastra FKIP UHO.

Tarigan, Henry Guntur. 2009. Pengajaran Gaya Bahasa. Bandung: Angkasa

Yunus, S. 2015. Kompetensi Menulis Kreatif. Bogor: Ghalia Indonesia.

Kategori: KTI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.